Senin, 28 Februari 2011

Si Penggila Cerpen Mendonasikan Majalah

Namanya Dwi Yuni, teman-teman manggilnya Yuni or Dwi or paijem :). Dia penggila cerpen, terutama cerpen-cerpen ABG. Karena kegemarannya membaca dan menulis cerpen, beberapa kali cerpennya nongol di majalah anak muda. Untuk mensupport hobinya ini dia rajin membeli majalah-majalah remaja.
"Kira-kira majalah-majalahmu yang lama akan kamu kemanakan yun?" saya bertanya ke Yuni saat mampir ke kostnya di Jl Kramat Sentiong, Jakarta pusat.
"Ya tidak tahu mbak, mungkin tak buang." Jawab Yuni
"Mau berbagi enggak untuk orang lain? gimana kalau kamu donasikan aja ke perpustakaan komunitaku?" Saya mencoba memberikan penawaran.

Ternyata Yuni sangat senang sekali dengan tawaran saya. Kebetulan saat itu dia sedang wisuda
dari BSI, jadi orang tuanya dari Banyuwangi berada di Jakarta untuk menghadiri wisudanya. Dengan kerelaan dari kedua orang tua Yuni, majalah-majalah tersebut dititipkan mereka untuk dibawa ke Banyuwangi. Lalu saudara saya mengambil di tempatnya Yuni di Banyuwangi. Alhamdulillah banyak orang yang membantu.

Sekarang majalah remaja tersebut menjadi bagian dari koleksi perpustakaan komunitas. Thanks ya Yun :)

Harus terus mengejar


Hari itu saya ke kantor dengan mampir dulu di perpustakaan CRCS/ICRS (Cross religions and cultural studies/Indonesia consortium for religious studies) yang berada di lingkungan gedung sekolah pasca sarjana UGM, Yogyakarta. Sambil mengembalikan buku saya ngobrol dengan Librarian di situ. Saya sudah cukup akrab dengan mereka, karena pada semester pertama perkuliah saya di ICRS saya work study di perpustakaan.

Saat ngobrol saya melihat tumpukan majalah-majalah edisi lama, seperti Tempo, Newsweek dan sebagainya. Lalu saya iseng bertanya "Biasanya majalah-majalah bekas itu di jual kemana mbak?" Menurut Mbak Arini sang Librarian majalah-majalh itu dijual ke tukang loak, karena mereka mengaku kekurangan space di perpustakaan untuk menyimpannya. Spontan saya mengajukan diri untuk membeli majalah-majalah tersebut yang ternyata harganya permajalah hanya seribu rupiah, ini jauh lebih murah dari pada beli di shoping (pusat buku di Yogyakarta). Ada 2o majalah yang ada, dan semuanya langsung saya borong. Cukup dengan 20.000 rupiah saya sudah bisa mendapatkan 20 majalah bagus.

Saat saya diskusi dengan Mbak Arini, Mas Widiarsa librarian yang lain menawari saya buku-buku bahasa Inggris bekas. Buku-buku tersebut sudah sangat lama dan tidak pernah diakses oleh mahasiswa. Mereka berniat menjualnya. Sayapun semakin girang dan langsung menyanggupi membelinya. Pertama Mas Widiarsa mengajukan harga 5000 ribu untuk setiap buku, lalu saya menawarnya menjadi 3000 rb. Alhamdulillah mas Widiarsa menyetujui. Jadilah dengan uang kurang dari 190 rb saya mendapatkan 20 majalah dan 56 buku. Alhamdulillah. jadi semakin bersemangat untuk terus berburu buku.

Thank you all